CERBUNG: USAI Eps. Pertemuan yang Tidak Terduga (part 2)
Tiga tahun sebelum mulai memasuki dunia perkuliahan...
Hari itu, senin pagi yang cerah, awal tahun ajaran baru telah dimulai. Memasuki tahun ajaran baru, semua siswa bersiap untuk memasuki kelas baru, sekolah baru, atau mungkin ada yang masih tertinggal di kelas yang lama.
Aku menjadi salah satu siswi SMA kelas sepuluh yang baru saja diterima di salah satu sekolah swasta di Ibu Kota. Sekolah ini cukup elit dan bergengsi. Hanya orang-orang yang memiliki keberuntungan yang mujur yang bisa lulus seleksi tanpa tes. Sisanya mengandalkan uang.
Aku turun dari angkot dengan langkah cepat untuk memasuki gerbang sekolah. Ramai lalu lalang siswa di sana. Beberapa siswa lama dan guru menyambut siapa saja yang memasuki gerbang dengan sapaan hangat. Hari ini adalah hari pertama masa pengenalan lingkungan sekolah.
Aku tersenyum sekilas kepada guru dan siswa yang menyambut di depan gerbang. Aku tidak tahu harus melangkah ke mana lagi setelah berhasil melewati gerbang. Baru beberapa kaki melangkah, seorang siswa menyapaku dengan ramah. Ia tahu kalau aku siswa baru di sekolah itu. Terlihat dari nametag yang kukenakan.
Siswa itu salah satu anggota OSIS. Memintaku untuk segera berkumpul di lapangan. Upacara pembukaan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) akan segera dilaksanakan. Aku mengikuti siswa itu menuju ke lapangan yang letaknya tidak jauh dari gerbang sekolah. Hanya berjarak beberapa gedung, kamipun sampai.
Lapangan telah dipenuhi oleh kerumunan siswa baru dan juga lama. Persiapan untuk upacara sedang dilakukan. Aku menatap lamat-lamat kerumunan itu. Tidak tahu harus berdiri dibarisan mana.
"Kamu boleh baris dimana saja. Setelah upacara selesai, nanti akan diumumkan pembagian kelas." Kata siswa itu, seolah tahu dengan apa yang aku pikirkan.
Aku melangkah memasuki barisan yang paling dekat denganku berdiri. Untuk melangkah ke barisan yang lain terlalu malas. Siswa laki-laki diatur untuk baris paling depan, sedangkan yang perempuan mengikuti di baris belakang.
Baru berjalan beberapa langkah, segerombolan siswa yang berjalan sambil bergurau tiba-tiba menabrakku, membuatku hampir terjungkal ke depan, tapi kedua tangan seseorang dengan sigap meraih lenganku. Tidak sengaja kulit kami saling bersentuhan.
Entah apa alasannya, dengan refleks ia mengibas tangannya beberapa saat kemudian seolah membersihkan tangan setelah bersentuhan denganku. Apakah dia jijik? Atau mungkin dia merasa tanganku terlalu kotor? Hanya itu yang terlintas dalam kepalaku. Untuk pertama kalinya aku bertemu seorang pria yang aneh dan kupikir ia terlalu sombong karena peristiwa barusan.
"Maaf," kataku spontan. Aku hampir saja ikut membuat pria itu terjatuh kalau dia tidak sigap meraih lenganku.
Sambil mengibas tangannya secara refleks ia berucap, "Astaghfirullah" pekiknya pelan. Tanpa melirik ke arahku ia langsung berjalan ke barisan paling depan.
"Arggggh. Dasar sombong!" Gerutuku dalam hati. Andai saja waktu bisa berhenti sejenak aku ingin sekali mengacak wajahnya yang sombong.
"Sabar ya," kata seseorang yang melihat kejadian barusan. Kejadian saat pria itu dengan sombongnya mengibas tangan saat kami bersentuhan.
"Eh, iya." Aku tersenyum dengan penuh rasa malu ke arah orang itu. Seorang siswi dengan kerudung yang terlilit di lehernya. Gaya kerudung yang ia kenakan persis seperti para selebgram di sosmed yang sering membagikan tutorial hijab.
"Kenalin, aku Putri." Dia mengulurkan tangannya seraya berjabat tangan untuk berkenalan.
"Aliya." Jawabku sambil meraih uluran tangannya ikut berkenalan.
"Semoga kita dapat satu kelas," ucapnya.
"Iya."
Perbincangan singkat yang entah harus dibalas seperti apa. Karena aku tidak biasa mengobrol dengan orang yang baru dikenal. Karena terbiasa dan nyaman dengan dunia sendiri, aku cukup susah untuk bergaul atau bersikap ramah dengan orang. Bisa dibilang aku adalah robot yang menjelma dalam wujud manusia.
Flaschback off
***
Di ruang kelas masih tersisa aku dan Wulan. Wulan masih mendengar ceritaku dengan antusias. Ia mencerna kalimatku dengan baik. Beberapa hal yang tidak ia mengerti langsung ia tanyakan. Bahkan belum selesai aku bercerita, Wulan selalu saja memotongnya untuk bertanya.
"Stop!" Wulan mengangkat lima jarinya mengisyaratkan agar aku berhenti bercerita.
"Kenapa dia mengibaskan tangannya?" Tanya Wulan.
"Ada alasan kenapa dia melakukan itu," jawabku sambil menatap ke luar jendela. Seolah melihat reka adegan kejadian itu, aku merasa seperti kembali ke masa lalu.
Bersambung...

0 Response to "CERBUNG: USAI Eps. Pertemuan yang Tidak Terduga (part 2)"
Posting Komentar